CINTA ARLEN

 

“Tak Jarang Yang Menurutmu Sepele Justru Sangat Berati Bagi Orang Lain”

***************************************************************************

Hawa dingin merasuk hingga ketulang, suara kumandang adzan subuh tengah menggema ,saat suasana seperti ini biasanya ingin dipeluk sang pasangan untuk mendapat kehangatan ,namun nihil bagi seorang Arlen.

Arlen pun bangun untuk menjalankan kewajibanya.

" Mas bangun saatnya solat subuh"sambil mengguncang pelan pundak suaminya yang terlelap.

(Mas adalah panggilan Arlen untuk suaminya, karena mereka bertemu dibangku kuliah sebagai senior dan junior, panggilan itu terbawa hingga menikah)

Tidak ada jawaban dari sang suami, yang ada Didan malah menaikkan selimutnya ketubuh bagian atas sampai menutup kepala.

"Ayow donk mas bangun, keburu fajar tiba, jangan sampai ketinggalan waktu subuhnya donk mas"

(Arlen kembali membangunkan suaminya dengan membuka selimut tebal yang menutupi kepala sambil berbisik di telinganya dan mendaratkan kecupan kecil di pipi suaminya).

"Hmm"

Akhirnya ada pergerakan kecil dari suaminya yang bereaksi

"Mas sudah setengah lima nieh"

Dengan suara yang sedikit jengkel kembali keluar dari bibir tipis Arlen.

"Iya iya bentar, kamu ambil air wudhu dulu nanti aku nyusul" (respon Didan dengan nada malasnya)

"Kita gak berjamaan mas?" (tanya Arlen lagi dengan ekspresi cemberut)

"Iyah, ini aku udah bangun kenapa kamu berisik banget sieh"

"Biarin berisik yang penting kan bisa berjamaah, jarang banget lho mas kita bisa berjamaah selain waktu subuhan, itu pun kalau kamu enggak ke luar kota" (jawab Arlen sambil menuju kamar mandi yan berada di sudut kamar bernuansa putih itu)

"Baiklah Arlen Camila Pramono" sahut Didan dengan sedikit menyunggingkan senyum coolnya.

Setelah melaksanakan solat subuh berjamaah ,mereka kembali kerutinitas mereka masing-masing. Arlen segera menuju ke dapur untuk membantu Mbak Anti (ART mereka) ,kenapa Arlen hanya membantu karena notabenya Arlen memang tidak pandai masak-memasak malah cenderung malas berkutat di dapur, makanya dia hanya membantu sebisanya sambil mengamati dan belajar agar bisa lebih pandai lagi dalam menciptakan masakan yang sesuai selera Didan suaminya.

Itulah salah satu usaha Arlen untuk dapat kembali menjalin hubungan yang hangat bersama suaminya, harapan Arlen dengan berusaha menghidangkan masakan yang enak dapat merekatkan kembali hubungan mereka yang semakin hari semakin hambar ,entah mulai sejak kapan terjadi. Perlu diketahui bahwa sikap Didan terhadap segala hal yang masuk ke pankreasnya sangat berbanding terbalik 180 derajat dengan sikapnya terhadap wanita.

Suami Arlen itu akan sangat memuja dan makan seperti orang kelaparan jika didepanya dihidangkan masakan yan rasanya sangat enak ,meski hanya masakan sederhana, sehingga membuat sipencipta makanan merasa puas dan bangga jika masakanya dinikmati dan dihargai sedemikian rupa. Lain  halnya jika masakan yang dihidangkan didepanya rasanya kehilangan arah entah kemana tujuanya, Didan tanpa peduli dengan perasaan yang memasaknya akan pergi meninggalkan begitu saja tanpa lupa mengkritik secara pedas apa yang telah dihidangkan.

Untuk itu Arlen yang dulu di awal pernikahan selalu menyiapakan sendiri sarapan mereka, kini lebih memilih mengandalkan Mbak Anti yang sudah terbukti karyanya dapat diterima oleh Didan Suhendra.

Bukan Arlen malas atau gak mau kembali mencoba, dia hanya berusaha menghindar agar tidak sakit hati karena masalah yang sebenarnya sepele itu.

 

Setelah selesai berkutat di dapur Arlen kembali masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap berangkat ke butik Camila Mooi  yang artinya Camila adalah nama tengah Arlen ownernya dan mooi dalam bahasa belanda berarti cantik. Camila Mooi merupakan usaha yang dirintisnya sejak masih di bangku kuliah dulu.

Didan yang setelah subuh tadi menyempatkan diri untuk joging keliling kompleks mewahnya juga telah kembali dengan bermandikan peluh, namun tak mengurangi keindahan tubuh sixpack yang mirip roti sobek itu malah menambah terlihat semakin menawan.

"Mari sarapan dulu mas, biar lebih semangat kerjanya pagi ini" Arlen mengajak suaminya untuk turun sarapan bersama”.

"Mbak Anti masak apa pagi ini?" selidik Didan sebelum sampai dimeja makan.

Karena jika menu yang dihidangkan tidak mrnggugah seleranya, otomatis Didan akan langsung berangkat dan sarapan diruang kerjanya dan menyuruh asistenya untuk memesan makanan online. Yah serumit itu memang masalah memanjakan lidah bagi Didan, harus penuh rasa sabar level atas untuk menghadapinya dan Arlen sebenarnya sudah termasuk teruji kesabaranya.

"Pagi ini menunya sop iga mas, semoga mas suka ya" jawab Arlen dengan menyunggingkan sedikit senyumnya, walau sebenarnya Arlen tak suka kebiasaan suaminya yang selalu rewel masalah makanan yang menurutnya adalah hal sepele yang tak perlu dijadikan masalah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CINTA ARLEN"

Posting Komentar